Jumat, 20 Maret 2020

Kesalahan-kesalahan Logika



1.Ad Hominem


Menyerang atau mengritik pribadi orangnya, bukan argumennya.
Misalnya:
  1. Kamu bukan perempuan, jadi kamu tidak bisa bicara tentang gender.
  2. Stephen Hawking itu cuma di kursi roda kerjanya, mana bisa dia tahu tentang alam semesta?

2.Ad populum
Menyatakan bahwa argumen atau ide itu benar hanya karena orang banyak menyetujui atau mengamininya.
Contoh:
  1. Hampir seluruh rakyat Indonesia memilih Suharto sebagai Presiden, jadi dia pasti presiden yang tepat bagi negara ini.
  2. Karena semua orang di kota ini setuju bahwa bumi itu datar, pastilah hal ini benar.
  3. Mayoritas orang di dunia percaya bahwa Nabi saya paling benar, karena itu pastilah dia benar.
3.Ad Verecundiam (Appeal to authority)

Seringkali, kita mengutip pendapat dari mereka yang mempunyai pengetahuan khusus dalam bidangnya, karena penelitian atau studi yang sudah dilakukan. Misalnya, kita mengutip pendapat dokter spesialis tentang penyakit tertentu. Atau kita mengutip pendapat Yohanes Surya tentang Fisika.
Tapi mengutip pendapat seseorang karena jabatan atau kedudukannya, bukan karena penelitian atau keahliannya, adalah suatu kesalahan logika.
Contoh:
  1. Presiden Suharto berkata bahwa komunis dan orang-orang kira tidak bermoral. Hal ini pasti benar karena dia Presiden.
  2. Pendeta Mormon itu menyatakan bahwa poligami baik untuk semua orang.
4.Ad antiquitatem (Appeal to tradition)
Menyatakan bahwa sesuatu pasti benar, karena sudah dari dulu dilakukan seperti itu. Atau karena bapak, kakek, buyut dan nenek moyang yang mewariskan sesuatu, maka hal ini tidak bisa dikritik.
Contoh:
  1. Sudah dari dulu, bahkan dari nenek moyang, kita diajarkan bahwa duduk di pinggir pintu akan mengakibatkan perempuan tidak laku. Hal ini pasti benar, karena nenek moyang kita mempercayainya.
  2. Karena agama A adalah paling tua, maka agama ini benar. Bila tidak, mengapa banyak manusia mempercayainya selama berabad-abad lamanya?

5.Ad novitatem (appeal to novelty)
Ini adalah kebalikan dari nomer 4. Menyatakan bahwa sesuatu pasti lebih bagus atau lebih benar, karena hal itu baru, bukan karena pembuktian atau penelitian.
Contoh:
  1. HP ini pasti lebih bagus dari yang itu, karena lebih baru.
  2. Mesin ini pasti lebih kuat dan canggih, karena mesin itu lebih tua (Memang, biasanya mesin yang lebih baru akan lebih canggih, tapi belum tentu. Dan belum tentu juga mesin yang baru lebih kuat daripada mesin yang tua atau kuno. Karena beberapa bukti justru menyatakan bahwa mesin kuno terkadang lebih kuat daripada mesin yang baru).
6.lgnoratio Elenchi
Membuat kesimpulan atau jawaban yang tidak sesuai dengan premisnya. Jadi, ada semacam loncatan atau ketidaksinambungan antara kesimpulan dan informasi.
Contoh:
  1. Dia seorang lesbian, pasti dia tidak bisa mengajar dengan baik (apa hubungannya orientasi seksual seseorang dan kemampuannya?)
  2. Perempuan itu kelihatannya ramah dan murah hati, tapi dia mempunyai pacar banyak.

7.Ad Ignoratiam
Mengambil kesimpulan hanya karena sesuatu tidak terbukti salah. Atau menyatakan bahwa pernyataan A pasti benar, karena belum terbukti salah. Padahal, tidak adanya bukti, bukan berarti bukti tersebut pasti tidak ada, tapi belum ada.
Contoh:
  1. Karena kamu tidak bisa membuktikan adanya tuhan, maka tuhan pasti tidak ada.
  2. Kamu tidak bisa membuktikan bahwa Iblis tidak ada, karena itu Iblis pasti ada.

8.Beban Pembalikan Bukti
Menimpakan beban pembuktian kepada yang menyatakan klaim tersebut. Bila ini terjadi, seseorang bisa saja mengklaim apapun, tanpa memberi bukti.
Contoh:
A: Kamu harus percaya, bahwa ada gajah terbang.
B: Apa buktinya?
A: Apa kamu bisa membuktikan kalau tidak ada gajah terbang?
A: Kitab ini suci.
B: Aku tidak percaya.
A: Kalau kamu tidak percaya, buktikan kalau kitab ini tidak suci !
9.Petitio principia (Begging the question)
Kesimpulan yang ditarik berdasarkan atas suatu premis yang dianggap pasti benar. Dengan kata lain, argumen yang pembuktiannya berputar.
Contoh:
A: Agama saya pasti benar, karena suci.
B: Bagaimana kamu tahu kalau agamamu pasti benar?
A: Karena agama saya suci.
A: Dewa matahari pasti ada
B: Bagaimana kamu tahu?
A: Karena Kitab Suci saya menyatakannya.
B: Bagaimana kamu tahu bahwa Kitab Sucimu benar?
A: Karena Kitab Suci saya ditulis oleh sang Dewa.
10.Non causa pro causa
Menyimpulkan bahwa apa yang terjadi sesudahnya adalah akibat dari sebelumnya. Padahal sesuatu yang berurutan, belum pasti menunjukkan hubungan sebab-akibat.
Contoh:
  • Setelah saya berdoa, hujan turun.
Kesimpulan: Hujan turun, karena doa saya.
  • Setelah bertengkar dengan kekasihnya, A meninggal dunia.
Kesimpulan: A meninggal dunia karena bertengkar dengan kekasihnya.
Padahal, A meninggal dunia karena dia mabuk dan menyetir mobil. Kebiasaan mabuk dan menyetir mobil ini memang sudah sering dilakukan oleh A.

11.Generalisasi
Menggunakan contoh atau hal kecil untuk mewakili keseluruhan.
Contoh:
  • Orang Afrika ini tidak naik kelas. 
Kesimpulan: semua orang Afrika bodoh.
  • Hitler dan pasukan Nazinya membunuh jutaan orang Yahudi. 
Kesimpulan: Semua orang jerman membenci Yahudi.

12.Straw man fallacy
Membesar-besarkan atau menyelewengkan argumen orang lain, untuk membenarkan argumen kita.
Contoh:
A: Buku ini harus dikritik karena ada beberapa faktanya yang sudah tidak tepat.
B: Jadi, kamu menghina buku ini?
(Padahal, A hanya menyatakan bahwa ada beberapa fakta dari buku tersebut yang tidak tepat, tapi dia tidak menghina buku itu).
A: Seharusnya anak-anak tidak sering makan permen dan es krim, karena tidak baik untuk gigi.
B: Tidak memberi mereka es krim dan permen? Kamu mau merusak masa bahagia mereka sebagai anak-anak?
(Padahal A tidak bilang, anak-anak seharusnya tidak diberi es krim dan permen. A berpendapat „tidak sering makan“, tapi dibesar-besarkan oleh B).

13.Pertanyaan yang kompleks (menyesatkan)
Kesesatan ini bersumber pada pertanyaan yang sering kali disusun sedemikian rupa sehingga sepintas tampak sebagai pertanyaan yang sederhana, namun sebetulnya jawabannya menjebak.
Contoh:
A bertanya ke B: "Jadi, kamu tidak mengkonsumsi narkoba lagi?"
(Padahal B tidak pernah mengkonsumsi narkoba. Bila B menjawab “ya”, tentu ini tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi, bila B menjawab “tidak”, “tidak”, berarti dia menyatakan secara tidak langsung, bahwa ia pernah mengkonsumsi narkoba sebelumnya).
Seorang polisi bertanya: "Apakah kamu masih menyembunyikan barang buktinya?"
(Pertanyaan ini sukar dijawab hanya dengan ya dan tidak, apabila bila yang ditanya tidak pernah mempunyai barang bukti itu. Bila ia menjawab "tidak“ pun, yang ditanya seolah menyatakan bahwa ia memang mempunyai barang bukti itu dan pernah menyembunyikannya).
Siapa yang sudah kamu tuduh mencuri barang ini?
(Padahal, yang ditanya tidak pernah menuduh siapapun. Tapi pertanyaan ini sudah menyesatkan, seolah yang ditanya sudah menuduh seseorang).

14.Ad passiones (appeal to emotion)
Mencoba membuat orang lain menyetujui ide atau argumen kita bukan dengan logika, tapi dengan mempengaruhi perasaan atau emosi mereka. Ada beberapa tipe dari kesalahan logika ini. Yaitu:
a. Ad baculum
Mendesak orang menerima suatu ide, konsep atau argumen dengan menakut-nakuti atau mengancam.
Contoh:
  1. Kalau kamu tidak setuju denganku, kamu akan celaka.
  2. Siapapun yang tidak percaya pada agamaku, akan masuk neraka.
Dalam sejarah, hal inilah yang terjadi pada Giordano Bruno dan Galileo, yang menyatakan bahwa bumi mengelilingi matahari. Hal ini dianggap menentang kehendak Tuhan, karena Gereja yang menekankan bahwa matahari mengelilingi bumi.
Giordano Bruno diancam oleh Gereja bila mempertahankan ide ini (dan akhirnya dia dibakar hidup-hidup). Galileo juga dikucilkan oleh Gereja karena mempertahankan idenya tentang heliosentrisme.
b.Ad misericordiam (Appeal to pity atau Belas kasihan)
Mencoba membenarkan argumen atau mendorong orang lain untuk mempercayai sebuah argumen dengan membangkitkan rasa belas kasihan.
Contoh:
  1. Nilai murid ini tidak mungkin jelek, karena dia sudah belajar keras sekali. (Terkadang, walaupun murid sudah belajar banyak, nilai mereka jelek bila tidak mengerti pelajaran tersebut).
  2. Saya harus mendapat kenaikan gaji karena uang sekolah anak saya naik dan saya baru saja kerampokan. (Kenaikan gaji seharusnya berdasarkan prestasi dan kerja, bukan berdasarkan sikon orang tersebut).
c.Appeal to flattery
Memuji seseorang untuk mengarahkan argumen atau keputusannya. Strategi seperti ini banyak digunakan dalam bisnis atau oleh salesman/woman.
Contoh umum dari salesman/woman:
  1. Mas, sudah keren. Tapi kalau merokok bisa tambah keren dan gagah, lho. Nanti pasti banyak cewek jatuh cinta. Ayo, beli rokok ini.
  2. Mbak cantik sekali, mirip Luna Maya, kalau beli lipstik ini akan lebih cantik lagi dan mungkin tidak bisa dibedakan dari Luna Maya lho.
 Contoh lain:
  1. Kamu temanku yang paling baik, tentunya kamu setuju dengan ideku.
  2. Kamu pastilah orang soleh. Tentunya hanya seorang beriman seperti kamu yang bisa mengetahui bahwa logika orang ini ngawur.

Membenarkan argumen agar sesuai dengan harapan kita. Atau mencoba membuat orang lain setuju dengan argumen kita, dengan menggunakan harapan sebagai alasan.
Contoh:
  1. Kalau kita yakin bahwa tahun depan, ekonomi Indonesia akan membaik, maka hal ini akan benar-benar terjadi. Karena itu, janganlah kita berpendapat beda.
  2. Saya yakin, sesudah mati kita akan masuk surga. Karena kalau tidak, apa gunanya hidup? (Padahal, tidak ada orang yang bisa membuktikan bahwa manusia akan masuk surga sesudah meninggal. Tapi, karena harapan yang ditawarkan, pendapat ini memaksa orang lain untuk setuju tanpa pembuktian atau penelitian lebih lanjut).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar